Langsung ke konten utama

Postingan

Kehilangan Menjadikanmu Lebih Kuat (Bayi Zakiahmad Part 1)

Bismillahirrahmaanirrahiim ... Agaknya sudah lama tak kembali menorehkan pena, lebih tepatnya curhat di blog ini. Biar sejenak ku pending kisah menuju halalnya zakiahmad, kini sedang ingin menceritakan suka-duka menanti buah hati. Sungguh perjalanan panjang, entah harus ku mulai dari mana. Saat ini, suasana hati sedang dilanda pilu. Langsung saja, di usia pernikahan 1 tahun 1 bulan ini tetap ku syukuri, alhamdulillah adalah perjuangan kehamilan yang ke-3. Loh? Kok bisa? Sedikit bercerita tentang dua kehamilan sebelumnya, alhamdulillah, sebulan setelah menikah, kami (aku dan suami) langsung diamanahi calon buah hati, dalam artian tidak sempat kosong kandungan. Tentu tidak hanya menjadi kebahagiaan kami saja, orang tua dan keluarga besar pun ikut bahagia mendengar kabar kehamilanku. Maklum kehamilan pertama, kiranya ku masih awam dan karena memang tidak ada keluhan mual, muntah, maboklah yah kasarnya, ku jadi rada tak tahu diri, dalam artian di trimester awal itu ku masih 'rempong...
Postingan terbaru

Ia, Berhak Memilih... (Zakiahmad Part 03)

Kamis, 13 April 2017, atas berbagai pertimbangan, bertempat di salah satu resto dekat kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung tibalah pertemuan penentu perjalanan kami. Ya, hari itu, setelah hampir empat tahun ' hilang ' kami sepakat untuk bertemu lagi, ditemani orang ketiga, mama.  Pertemuan pertama dengan berbagai ke-klise-an hati. Sesuai kesepakatan, kami bertemu pukul 14.00 karena harus mengikuti serangkaian aktivitas terlebih dahulu di kampus masing-masing. Sebetulnya sedari ba'da dzuhur kegiatanku sudah selesai, namun aku terlampau grogi, cemas akan apa yang akan terjadi nanti. Sekitar pukul 13.00 kuterima chat dari beliau, sekedar memberi kabar bahwa beliau sudah tiba di TKP, kegiatannya selesai lebih cepat. Bisa saja ku segera menemuinya, namun aku bergeming, enggan tak berani. Aku masih membutuhkan waktu untuk 'bersembunyi', menenangkan gemuruh di hatiku yang nyatanya tak pernah terhenti. Tidak lama dari itu tibalah mama, segeralah kami berangkat menuju ...

Hatimu, Tak Akan Keliru... (Zakiahmad Part 02)

Pagi hari dengan hiruk pikuk persiapan menuju lokasi penelitian (tugas akhir), tepatnya 10 April 2017, notif tanda chat baru muncul via messenger. Ahh gemetar layaknya sehari sebelumnya kembali menyapa setelah terbaca nama pengirim chat. 'Beliau (lagi)' . Kurang lebih inti dari chat pagi itu adalah diri ini yang masih shock dengan 'kehadirannya' yang begitu sangat tiba-tiba dan tak terduga, dan beliau yang terus berusaha meyakinkanku bahwa beliau hendak bertemu bersilaturahmi denganku, dengan orangtuaku, dan jika semuanya berjalan lancar atas izin Allah, bermaksud mengkhitbahku. Tentu saja tidak semudah itu keterkejutan ini sirna. Ketika beliau membahas perihal khitbah, tak semerta-merta ku iyakan. Pertanyaan "kenapa aku?" nyatanya kian membuatku penasaran, bingung, dan tak karuan. Jika pada chat pertama sehari sebelumnya ku tak berani menanyakannya, kini ku paksakan untuk mengutarakannya. Hanya ingin menepis kelabu yang agaknya mulai menyelimuti....

Tak Mengapa, Menangislah... (Zakiahmad Part 01)

Malam ini, entah mengapa sulit terlelap. Tahunya mata sudah basah tak terasa. Sesekali tersenyum sendiri. Bersyukur. Tiba-tiba teringat betapa kurang lebih empat bulan ini kisahku serupa pelangi lengkap bertabur permen nano-nano. Ingin menuliskannya saja, siapa tahu esok lusa anak-cucuku penasaran dengan kisah ibu-ayah dan nenek-kakek mereka, In syaa Allah. Nah, bingung juga, harus dimulai dari mana?  Baiklah, bismillah , sepenggal perjalanan menggenapkan dien . Tak pernah walau sekejap ku bermimpi, bahkan dalam fantasiku sekalipun beliau akan menjadi seorang yang teramat istimewa. Bukan berarti sebelumnya tak ku anggap istimewa, istimewa dalam kadar yang berbeda. Ahad malam, kurang lebih pukul 20.40 WIB di bulan April tanggal 9. Pesan singkat berisi kalimat salam masuk ke dalam kotak pesan salah satu akun media sosial. Agak terkejut juga melihat nama sang pengirim pesan. Tidak biasanya. Walau sempat ragu akhirnya ku balas kalimat salam tersebut. Kiraku tak sopan bil...