Langsung ke konten utama

Kehilangan Menjadikanmu Lebih Kuat (Bayi Zakiahmad Part 1)

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Agaknya sudah lama tak kembali menorehkan pena, lebih tepatnya curhat di blog ini. Biar sejenak ku pending kisah menuju halalnya zakiahmad, kini sedang ingin menceritakan suka-duka menanti buah hati.

Sungguh perjalanan panjang, entah harus ku mulai dari mana. Saat ini, suasana hati sedang dilanda pilu. Langsung saja, di usia pernikahan 1 tahun 1 bulan ini tetap ku syukuri, alhamdulillah adalah perjuangan kehamilan yang ke-3. Loh? Kok bisa?

Sedikit bercerita tentang dua kehamilan sebelumnya, alhamdulillah, sebulan setelah menikah, kami (aku dan suami) langsung diamanahi calon buah hati, dalam artian tidak sempat kosong kandungan. Tentu tidak hanya menjadi kebahagiaan kami saja, orang tua dan keluarga besar pun ikut bahagia mendengar kabar kehamilanku. Maklum kehamilan pertama, kiranya ku masih awam dan karena memang tidak ada keluhan mual, muntah, maboklah yah kasarnya, ku jadi rada tak tahu diri, dalam artian di trimester awal itu ku masih 'rempong' dengan segala aktivitas, terlebih kala itu, dua minggu setelah nikah ku di boyong suami ke Tasikmalaya karena suamipun sibuk dengan pekerjaannya di sana. Di tambah aku maupun suami masih di sibukkan dengan revisi tugas akhir, sedangkan kampus kami dua-duanya di Bandung. Alhasil tiap satu minggu sekali kami bolak-balik Tasikmalaya-Bandung. Selesai dengan tugas akhir, masih harus tetap bolak-balik Tasikmalaya-Bandung mengurus birokrasi perpindahanku yang Subhanallah sekali ribetnya. Tak cukup dua kali pulang-pergi. Di hari yang lainnya aktivitasku bertambah juga, karena aku mulai mengajar. Sedih rasanya, sejenak ku melupakan betapa pentingnya menjaga kandungan.

Di usia 7 minggu kehamilan, tepat sedang turun tangga sepulang mengajar dari kelas, tiba-tiba saja mengalami pendarahan hebat. Kala itu bergegas aku, suami dan ibu mertua menuju Obgyn, dan apalah daya, calon bayiku tak mampu bertahan. Sedih? Sekali! Rasanya baru kemarin dapat kabar bahagia, tahunya hari itu harus berganti duka. Obgyn pun memutuskan aku harus di kuret karena setelah di USG, masih tersisa jaringan di rahim, dengan berat hati, dengan rasa takut pula, ku hadapi.
Karena itu keguguran yang pertama, mengingat aktivitasku yang seolah tidak sedang hamil, Obgyn menyimpulkan bahwa penyebab keguguran adalah aktivitasku yang terlalu ekstra (kecapean).

Pasca kuret, Obgynku bilang harus menanti setidaknya tiga kali haid sebelum bisa hamil lagi, tapi Allah berkehendak lain, selang satu kali haid, aku hamil lagi! Tentu hal itu sukses menjadi kabar baik sekaligus kabar yang membuat harap-harap cemas. Kenapa? Mengingat kiranya terlalu cepat untuk hamil lagi, hehe. Tapi ku pasrah saja. Yakin pada rabbku, bahwa jika ini yang terbaik, maka Allah akan menjaga kandunganku.

Kehamilan yang ke-2, dengan pantauan Obgyn sedari awal, ku diminta bedrest beberapa minggu saja dengan di doping obat penguat kandungan (info: Utrogestan) dan tentu saja ku ikuti. Beberapa minggu tersebut aku mengambil cuti mengajar, alhamdulillah dipermudah. Masih sama dengan kehamilan pertama, disini pun aku tak merasakan mabok hamil. Semua baik-baik saja, semua makanan enak-enak saja.

Sampai tiba suatu hari, Mama-Bapa datang jauh-jauh dari Bandung untuk menjenguk. Seharian beliau menemani di rumah bahkan sampai menginap. Besok paginya, Mama-Bapa hendak pulang. Niat baik beliau ingin membawaku refreshing sejenak dengan mengajakku belanja keperluan sehari-hari ke salah satu toserba yang jaraknya pun tidak terlalu jauh dari rumah. Karena ku tak merasa punya keluhan, acara bedrest ku pause sejenak. Cangkeul ditambah saking happy-nya mau belanja, di toserba, aku kembali rada lupa diri, rada kaditu-kadieu seenaknya. Karena sekali lagi, tak ada keluhan apapun. Selesai belanja kami kembali ke rumah, di rumah, kebelet ingin BAK, tahunya... ketika BAK, ada darah segar ikut mengalir. Kembali panik, suami dan Mama-Bapa pun ikutan panik, kami segera menuju Obgyn. Karena hari itu hari Minggu, semua tempat praktek Obgyn di Tasikmalaya tutup. Jadilah ku putuskan lebih baik menunggu di rumah karena di rawat di rumah sakitpun percuma hanya akan bertemu dengan Obgyn di hari berikutnya. Sambil menanti hari esok, berharap ia masih bisa bertahan disana walau pendarahan tak pernah terhenti.

Besoknya, bertemulah kami dengan Obgyn, setelah di USG, lagi-lagi kami harus mendengar kabar memilukan itu lagi. Calon bayi kami tak bisa bertahan. Kembali menjadi pukulan keras bagiku. Sendu memenuhi hari-hariku. Alhamdulillah suami dan keluarga tak pernah berhenti menyemangati.

Merasa bingung dengan apa yang menimpa. Apa penyebab keguguran berulang yang ku alami? Obgyn akhirnya memintaku melakukan serangkaian uji lab. Waktu itu sempat ku lakukan uji TORCH, mengingat semasa gadisku dulu ku memelihara kucing persia. Tapi nyatanya hasil TORCH pun negatif, dalam artian keguguran berulang ini bukanlah karena faktor virus. Walau begitu, Obgynku ingin memastikan bahwa aku terbebas dari serangkaian virus tersebut, sehingga, selama tiga bulan pasca keguguran yang ke dua, aku ikut terapi TORCH.

Jujur, hati kecil masih bingung. Terapi tetap ku ikuti sambil ku ketar-ketir mencoba mencari dan menemui beberapa Obgyn lain untuk 2nd, 3th, 4th, dst opinion demi menemukan penjelasan yang dapat ku pahami mengenai kondisiku. Total enam Obgyn dari Tasikmalaya dan Bandung pernah ku temui. Sampai tiga diantaranya menyimpulkan bahwa penyebab keguguran berulang ini karena faktor kekentalan darah. Sederhananya, aku punya masalah dengan laju kekentalan darah, dalam kata lain, darahnya mudah menggumpal sehingga sirkulasi darah ke janin tersendat. Transfer nutrisi jadi terhambat.

Pasca keguguran yang ke dua, sambil tanggung dengan terapi TORCH (karena ku pikir tak ada salahnya meneruskan terapi, supaya kelak tubuhku sudah punya antibody terhadap virus-virus TORCH), empat bulan aku kosong tidak boleh hamil.

Sungguh perjuangan bila hanya di lihat dari satu sudut pandang saja tentulah memilukan. Tapi justru sebenarnya penuh dengan hikmah. Karena dengan kehilangan, kami belajar tuk mengikhlaskan. Sejatinya apa yang ada pada kami hanyalah titipan, bila yang Hak nya berkenan mengambil kembali, apalah daya tangan kami tak mampu menahannya. Hanya bisa dan boleh ikhlas, pasrah dan bersabar. Minimal, dengan kehilangan ini menjadikan kami lebih kuat. Kuat dalam menjalankan relasi sebagai suami-istri, anak-orangtua, adik/kakak-kakak/adik dan yang utama sebagai hamba-Rabbnya.

Hingga tepatnya beberapa minggu menjelang Ramadlan 1439 H kemarin, aku kembali mengetahui bahwa di rahimku kembali diamanahi calon buah hati!

[Berlanjut ke Bayi Zakiahmad Part 2]

Tasikmalaya, 26 Oktober 2018
07.20 WIB
Kamar zakiamad, dengan aku yang sedang lesu istirahat di kasur, dan suami hebatku yang sedang beres-beres rumah, hehehe 😆

Komentar