Kamis, 13 April 2017, atas berbagai pertimbangan, bertempat di salah satu resto dekat kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung tibalah pertemuan penentu perjalanan kami. Ya, hari itu, setelah hampir empat tahun 'hilang' kami sepakat untuk bertemu lagi, ditemani orang ketiga, mama.
Pertemuan pertama dengan berbagai ke-klise-an hati.
Sesuai kesepakatan, kami bertemu pukul 14.00 karena harus mengikuti serangkaian aktivitas terlebih dahulu di kampus masing-masing. Sebetulnya sedari ba'da dzuhur kegiatanku sudah selesai, namun aku terlampau grogi, cemas akan apa yang akan terjadi nanti. Sekitar pukul 13.00 kuterima chat dari beliau, sekedar memberi kabar bahwa beliau sudah tiba di TKP, kegiatannya selesai lebih cepat. Bisa saja ku segera menemuinya, namun aku bergeming, enggan tak berani. Aku masih membutuhkan waktu untuk 'bersembunyi', menenangkan gemuruh di hatiku yang nyatanya tak pernah terhenti. Tidak lama dari itu tibalah mama, segeralah kami berangkat menuju TKP.
Sempat agak kesulitan mencari beliau, bukan apa-apa hanya saja empat tahun bukan waktu yang singkat, dan berbagai perubahan terutama dari segi fisik (yang mudah dikenali) tentu saja bisa terjadi, takut-takut agak lupa yang manakah beliau. Mama pun sempat membantu mencari walau mama tidak yakin beliau yang mana karena sama sekali belum pernah bertatap muka. Sedang sibuk mencari, tiba-tiba mataku terhenti pada seseorang yang sedang duduk menatapku di salah satu meja di dekat jendela. Jujur saja aku terejut. Yaa Allah... It's really him... HIM!
Ku bisikkan pada mama bahwa dimana beliau berada. Mama dengan mantap berjalan menuju mejanya, dan aku mengikuti dari belakang. Mungkin gestur tubuhku kala itu begitu kaku karena terlalu canggung. Singkat cerita setelah sedikit bertegur sapa, dimulailah 'inti' dari pertemuan itu.
Sebenarnya suasana saat itu begitu santai (terima kasih pada mama yang begitu luar biasa bisa mengiringi kami, mencairkan suasana) namun gemuruh di hatiku tak kunjung dapat ku atasi. Keringat dingin serasa membasahi sekujur tubuhku. Sungguhpun selama pembicaraan berlangsung tak sanggup ku ikut bersuara, bahkan untuk sekedar mengangkat kepalaku saja aku enggan. Hanya bisa tertunduk malu. Ku terka hal serupa terjadi pada beliau namun penilaianku saat itu beliau cukup bisa mengontrol diri, karena bagaimanapun beliau sedang berusaha berjuang disini.
Faktanya bukan hanya aku yang terkejut dengan kehadirannya yang begitu tiba-tiba, mama pun demikian terkejutnya. Dari sudut pandang mama pun ku paham. Satu-dua kehawatiran yang ada dalam benaknya. Beliau, dengan gestur yang tidak dapat dipungkiri juga grogi, berhasil mengutarakan hal-hal berkenaan maksud dan tujuannya lengkap dengan alasan 'kenapa harus aku'.
Beberapa poin yang menjadi alasan kedatangannya:
- Beliau merasa sudah mantap dan siap untuk menggenapkan dien-nya.
- Beliau memperhatikan bahwa aku menurut kacamata pandangannya (...) (sengaja tidak disebutkan)
- Beliau berniat baik nan serius terhadapku untuk menjadikanku separuh komponen penggenap dien-nya.
Ekspresiku saat itu udah kaya yang kesamber petir, olohok untung teu ngacay 😂 diperburuk sama keringet yang teu eureun ngucur ðŸ˜. Sedari tadi ku hanya ngabandungan kan yah, mendengarkan percakapan mama dan beliau aja karena memang tiba-tiba otak stuck like a dumb padahal dari rumah udah kepikiran mau nanya ini-itu. Yaa Allah... jujur pengen nangis banget saat itu juga. Kenapa pengen nangis? Nyesel ketemu sama beliau? Bukaaaaannn! Sebaliknya. Pengen nangis saking tersentuhnya, terharunya. Campur aduk dengan cara beliau memaparkan hal-hal yang menjadi pendorongnya datang menemuiku. It was so gentle! Cara beliau memintaku dari orang tuaku... Seperti inilah... Seperti ini yang selalu ku harapkan. Tidak obral janji manis padaku tapi langsung mengutarakan maksudnya kepada orangtua dengan penuh tanggung jawab. Pada akhirnya pada detik itu juga, beliau memenuhi syarat tipe laki-laki idealku. Pada detik itu juga, hatiku terbuka. Pada detik itu juga, aku tersadar. Yaa Allah, apakah justru beliaulah yang selama ini ku nanti tanpa ku sadari? Beliau... dari semua orang di muka bumi ini... orang terakhir yang akan terpikirkan untuk menjadi imamku... Beliau... ustadzku di pondok dulu... Beliau... laki-laki bernama Yanyan Ahmad Yani itu, betul-betul memintaku untuk menjadi istrinya! ðŸ˜
Siang itu kami simpulkan sebagai langkah awal dari niat baik nan bertanggung jawabnya. Siang itu mama yang juga mewakili Bapa mempersilakan jikalau beliau akan kembali bersilaturahmi bersama keluarganya ke rumah. Siang itu, satu beban di dada beliau hilang terbalas syukur. Siang itu, hati anak gadis Mama berhenti berdetak.
Seakan membangunkan dari lamunan, tiba-tiba suara "Teh Kiki, aya nu bade di taroskeun?" (Teh Kiki, ada yang ingin ditanyakan?) membawaku kembali pada dunia nyata. Dengan cepat ku gelengkan kepala, pertanda tidak ada yang inginku tanyakan, kembali menundukkan kepala dalam-dalam. Malu.
Catatan:
Pertemuan perdana tidak ditemani Bapa, beliau sedang ada acara lain.
Rancaekek, 16 Januari 2018
*Ditulis ketika kembali LDR dengannya, dengan kondisi masih recovery dari suatu 'kehilangan' yang sangat bearti.
Komentar
Posting Komentar