Langsung ke konten utama

Tak Mengapa, Menangislah... (Zakiahmad Part 01)

Malam ini, entah mengapa sulit terlelap. Tahunya mata sudah basah tak terasa. Sesekali tersenyum sendiri. Bersyukur. Tiba-tiba teringat betapa kurang lebih empat bulan ini kisahku serupa pelangi lengkap bertabur permen nano-nano. Ingin menuliskannya saja, siapa tahu esok lusa anak-cucuku penasaran dengan kisah ibu-ayah dan nenek-kakek mereka, In syaa Allah.

Nah, bingung juga, harus dimulai dari mana? 

Baiklah, bismillah, sepenggal perjalanan menggenapkan dien.

Tak pernah walau sekejap ku bermimpi, bahkan dalam fantasiku sekalipun beliau akan menjadi seorang yang teramat istimewa. Bukan berarti sebelumnya tak ku anggap istimewa, istimewa dalam kadar yang berbeda. Ahad malam, kurang lebih pukul 20.40 WIB di bulan April tanggal 9. Pesan singkat berisi kalimat salam masuk ke dalam kotak pesan salah satu akun media sosial. Agak terkejut juga melihat nama sang pengirim pesan. Tidak biasanya. Walau sempat ragu akhirnya ku balas kalimat salam tersebut. Kiraku tak sopan bila tidak membalas, mengingat siapa beliau, seseorang yang memang ku kenal.

Malam itu sembari menatap monitor, memikirkan kalimat demi kalimat untuk skripsiku, sambil terpikir juga keperluan apa beliau mengirim pesan. Mencoba menebak-nebak, 'mungkin urusan artikel majalah pesantren?' ah sepertinya bukan, karena biasanya memang segala sesuatu berkenaan dengan majalah (yang ketika itu walau sudah menjadi alumnus, masih sesekali ku terima tawaran mengisi rubriknya) disampaikan langsung oleh seorang yang lain, tim editor majalah. Dan sejauh yang ku ingat, beliau bukan salah satu dari mereka. Tak lama pesanku terkirim, balasan lain ku terima. Beliau menanyakan beberapa hal yang bersifat personal, mengenai intensitas silaturahmiku ke pesantren, akademikku, dan ku kira memang masih pada tahap wajar. Toh beliau mengenalku, sah-sah saja beliau menanyakan satu-dua hal semacam itu. Ku balas seadanya. Walau jujur saja, entah memang diri ini lebay atau memang isi pesan balasan dari beliau selanjutnya mulai sangat memasuki area personal yang lain, tanganku mulai bergetar, basah oleh keringat dingin, dan hatiku, ah sudahlah tak usah ku perjelas gemuruhnya. Singkatnya, apa yang beliau utarakan adalah bahwa beliau sedang melakukan ikhtiar terhadap suatu hal, dan diriku menjadi salah satu komponen didalamnya. Suatu hal apa? Menggenapkan dien. Terkejut? Sangat! Logika berpikir beliau mungkin sedang bercanda, atau mungkin media sosialnya sedang di bajak? Bisa saja kan? Namun ternyata beliau memang serius. Dan pemegang akun tersebut memang nyatanya beliau sendiri. Beliau... guruku di pesantren dulu. Beliau... yang ku hormati selayaknya santriah terhadap ustadznya. Beliau... mengajakku untuk 'menikah'? Yaa Allah... 'Bagaimana bisa? Sejak kapan? dan yang terpenting... Kenapa aku?'. Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba bermunculan begitu saja. Tapi sungguh tak satupun yang berani ku tanyakan. Speechless. Seakan bisa membaca pikiranku, pesan berikutnya berisi penegasan bahwa beliau benar-benar serius.

Isi percakapan kami malam itu tidaklah banyak. Sampai pada titik itu, ku gemetar. Ini, ungkapan hatiku yang sejujurnya, bahwa kala itu pertama kalinya ku merasa gemetar sebegitu hebatnya. Dan ini, tidak pernah ku rasakan sebelum-sebelumnya. Malam itu, ku akhiri percakapan kami dengan meminta waktu untuk istikharah. Sungguh ku tak bisa memutuskan. Biarlah ku libatkan Rabbku dalam urusan ini yang kemudian terasa semakin klise setelah ku teringat seseorang* lain... Dan pada akhirnya, malam itu aku hanya bisa menangis.

Catatan: 
*Seseorang: akan sekilas ku bahas pada postingan 👉 "Side Story Zakiahmad"

Rancaekek, 23 Agustus 2017
02.02 WIB
H-17 Zakiahmad Wedding Day

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan Menjadikanmu Lebih Kuat (Bayi Zakiahmad Part 1)

Bismillahirrahmaanirrahiim ... Agaknya sudah lama tak kembali menorehkan pena, lebih tepatnya curhat di blog ini. Biar sejenak ku pending kisah menuju halalnya zakiahmad, kini sedang ingin menceritakan suka-duka menanti buah hati. Sungguh perjalanan panjang, entah harus ku mulai dari mana. Saat ini, suasana hati sedang dilanda pilu. Langsung saja, di usia pernikahan 1 tahun 1 bulan ini tetap ku syukuri, alhamdulillah adalah perjuangan kehamilan yang ke-3. Loh? Kok bisa? Sedikit bercerita tentang dua kehamilan sebelumnya, alhamdulillah, sebulan setelah menikah, kami (aku dan suami) langsung diamanahi calon buah hati, dalam artian tidak sempat kosong kandungan. Tentu tidak hanya menjadi kebahagiaan kami saja, orang tua dan keluarga besar pun ikut bahagia mendengar kabar kehamilanku. Maklum kehamilan pertama, kiranya ku masih awam dan karena memang tidak ada keluhan mual, muntah, maboklah yah kasarnya, ku jadi rada tak tahu diri, dalam artian di trimester awal itu ku masih 'rempong...