Langsung ke konten utama

Hatimu, Tak Akan Keliru... (Zakiahmad Part 02)

Pagi hari dengan hiruk pikuk persiapan menuju lokasi penelitian (tugas akhir), tepatnya 10 April 2017, notif tanda chat baru muncul via messenger. Ahh gemetar layaknya sehari sebelumnya kembali menyapa setelah terbaca nama pengirim chat. 'Beliau (lagi)'.

Kurang lebih inti dari chat pagi itu adalah diri ini yang masih shock dengan 'kehadirannya' yang begitu sangat tiba-tiba dan tak terduga, dan beliau yang terus berusaha meyakinkanku bahwa beliau hendak bertemu bersilaturahmi denganku, dengan orangtuaku, dan jika semuanya berjalan lancar atas izin Allah, bermaksud mengkhitbahku.

Tentu saja tidak semudah itu keterkejutan ini sirna. Ketika beliau membahas perihal khitbah, tak semerta-merta ku iyakan. Pertanyaan "kenapa aku?" nyatanya kian membuatku penasaran, bingung, dan tak karuan. Jika pada chat pertama sehari sebelumnya ku tak berani menanyakannya, kini ku paksakan untuk mengutarakannya. Hanya ingin menepis kelabu yang agaknya mulai menyelimuti. Bahkan sempat ku tanyakan apakah memang benar "Kiki" yang beliau maksud adalah Kiki yang 'ini'? Bukan Kiki-kiki yang lain? Kiki yang tertukar? Dari sekian santriah yang bernama Kiki, apa betul-betul tidak keliru? Kiki yang bahkan hampir empat tahun lulus dari pesantren tak pernah melakukan kontak sedikitpun, via media apapun dengan beliau, yang selama itu pula tak pernah bertegur sapa lagi (karena seingatku memang kami, atau mungkin aku tak pernah lagi berjumpa dengan beliau, sekalipun pada kesempatan bersilaturahmi ke pesantren), yang bahkan aku hampir melupakan keeksistensiannya beliau. Ini terlalu diluar dugaan. Dan akhirnya beliau memintaku untuk bersedia mendengarkan kronologis kisahnya. Kisah yang teramat sangat membuatku bingung dan ambigu. Tentu ku iyakan. Aku bersedia mendengarkannya. Berharap hal tersebut dapat menyibak kebingungan ini.

Seling beberapa menit berlalu, chat panjang kuterima. Benar, beliau menceritakan bagaimana perjalanan yang ditempuhnya sampai pada akhirnya penantian itu berakhir padaku. Seseorang** yang sempat menjadi sepenggal kisah beliau turut serta diceritakan. Membacanya sejenak membuatku berpikir. 'Ya, setiap orang berhak memiliki kisah masa lalu. Bukankah ini adil? Seperti halnya aku yang juga tak luput dari kisah sejenis itu'.

Namun ternyata hal itu belum juga cukup menjawab pertanyaan "Kenapa aku?" dengan segala keterbatasan dan kekuranganku. Kenapa harus aku ketika beliau mampu memilih perempuan-perempuan yang jauh lebih baik dariku dalam segalanya untuk dijadikan istri. Kenapa harus aku ketika bahkan ku yakin santriah baik mereka yang masih duduk di bangku sekolah maupun ustadzaat pengabdian di pesantrennya banyak yang sudah 'siap dijemput'. Kenapa harus aku? Kembali ku tanyakan hal tersebut. Dan jawaban beliau kemudianlah yang mampu menyibak keraguan di hatiku. Bagaimanalah ini, bahkan ku tak bisa mendeskripsikan perasaan macam apa yang menghampiriku setelah beliau memaparkan beberapa diantara alasan dan pertimbangan mengapa "harus aku" (tanpa sedikitpun kalimat pemaksaan dan maaf tak bisa ku paparkan disini).

Diantara percakapan kami, tak lupa beliau mengutarakan harapannya, bahwa sebenarnya sederhana saja, jikalau ku setuju, beliau ingin kepercayaan penuh bahwa beliau mampu menjadi sang imam dunia akhirat bagiku. Karena sejatinya Ialah Allah Maha Pembolak-balik Hati, perasaan 'bam!' menjadi permulaan hatiku yang mulai luluh. Singkat cerita, kami agendakan pertemuan untuk 'silaturahmi'. Biarlah progress selanjutnya ditentukan setelah pertemuan tersebut. Kamis, 13 April 2017, pertemuan pertama kami setelah empat tahun tak pernah bertatap muka. Pertemuan pertama, ditemani orang ketiga, yang kala itu adalah mama (dengan segala keterkejutannya (juga)).

Sepanjang chat kedua ini, keringat dingin dan jantung yang terasa terpompa full speed turut mengiringi.

Catatan:
**Seseorang (pada kisah beliau): akan sekilas ku bahas pada postingan 👉 "Side Story Zakiahmad"

Rancaekek, 23 September 2017
22.31 WIB
H+13 Zakiahmad Wedding Day
~Ditulis menjelang kepindahanku, kala LDR pertama sebagai suami-istri, denganku yang di Rancaekek dan beliau di Tasikmalaya
Ahh really missing him so much :')

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan Menjadikanmu Lebih Kuat (Bayi Zakiahmad Part 1)

Bismillahirrahmaanirrahiim ... Agaknya sudah lama tak kembali menorehkan pena, lebih tepatnya curhat di blog ini. Biar sejenak ku pending kisah menuju halalnya zakiahmad, kini sedang ingin menceritakan suka-duka menanti buah hati. Sungguh perjalanan panjang, entah harus ku mulai dari mana. Saat ini, suasana hati sedang dilanda pilu. Langsung saja, di usia pernikahan 1 tahun 1 bulan ini tetap ku syukuri, alhamdulillah adalah perjuangan kehamilan yang ke-3. Loh? Kok bisa? Sedikit bercerita tentang dua kehamilan sebelumnya, alhamdulillah, sebulan setelah menikah, kami (aku dan suami) langsung diamanahi calon buah hati, dalam artian tidak sempat kosong kandungan. Tentu tidak hanya menjadi kebahagiaan kami saja, orang tua dan keluarga besar pun ikut bahagia mendengar kabar kehamilanku. Maklum kehamilan pertama, kiranya ku masih awam dan karena memang tidak ada keluhan mual, muntah, maboklah yah kasarnya, ku jadi rada tak tahu diri, dalam artian di trimester awal itu ku masih 'rempong...